Sang Buddha mengucapkan lima bait syair di bawah ini dalam keadaan yang berbeda ketika beliau masih hidup.
Piyato jayate soko, piyato jayate bhayam
Piyato vippamuttasa, natthi soko kuto bhayam
Dari perasaan sayang muncullah kesedihan,
Dari perasaan sayang muncullah ketakutan,
Dia yang sepenuhnya telah terbebas dari perasaan sayang,
Tidak akan merasakan kesedihan, dan tidak akan merasa begitu ketakutan
Pemato jayate soko, pemato jayate bhayam
Pemato vippamuttassa, natthi soko kuto bhayam
Dari perasaan cinta muncullah kesedihan
Dari perasaan cinta muncullah ketakutan
Dia yang sepenuhnya terbebas dari perasaan cinta
Tidak akan merasakan kesedihan, dan tidak akan merasa begitu ketakutan.
Katiya jayate soko, ratiya jayate bhayam
Ratiya vippamuttassa, natthi soko kuto bhayam
Dari kemelekatan muncullah kesedihan
Dari kemelekatan muncullah ketakutan
Dia yang sepenuhnya terbebas dari kemelekatan
Tidak akan merasakan kesediha, dan tidak akan merasa begitu ketakutan.
Kamato jayate soko, kamato jayate bhayam
Kamato vippamuttasa, natthi soko kuto bhayam
Dari nafsu muncullah kesedihan
Dari nafsu muncullah ketakutan
Dia yang sepenuhnya terbebas dari nafsu
Tidak akan merasakan kesedihan, dan tidak akan merasa begitu ketakutan.
Tanhaya jayate soko, tanhaya jayate bhayam
Tanhaya vippamuttasa, natthi soko kuto bhayam
Dari keinginan muncullah kesedihan
Dari keinginan muncullah ketakutan
Dia yang telah sepenuhnya terbebas dari segala keinginan
Tidak akan merasakan kesedihan, dan tidak akan merasa begitu ketakutan.
Berikut ini adalah sebuah kisah yang berasal dari Sri Langka yang terjadi sekitar seribu tahun setelah Sang Buddha Mahaparinibbana. Di Sri Langka terdapat sebuah kota bernama Anuradha, dan di sana tinggallah seorang wanita yang sangat setia pada Tri Ratna. Setiap hari dia mendatangi stupa bernama Abhayuttara Ceti untuk mempersembahkan bunga, membersihkan daerah di sekitarnya serta bersujud di hadapannya.
Piyato jayate soko, piyato jayate bhayam
Piyato vippamuttasa, natthi soko kuto bhayam
Dari perasaan sayang muncullah kesedihan,
Dari perasaan sayang muncullah ketakutan,
Dia yang sepenuhnya telah terbebas dari perasaan sayang,
Tidak akan merasakan kesedihan, dan tidak akan merasa begitu ketakutan
Pemato jayate soko, pemato jayate bhayam
Pemato vippamuttassa, natthi soko kuto bhayam
Dari perasaan cinta muncullah kesedihan
Dari perasaan cinta muncullah ketakutan
Dia yang sepenuhnya terbebas dari perasaan cinta
Tidak akan merasakan kesedihan, dan tidak akan merasa begitu ketakutan.
Katiya jayate soko, ratiya jayate bhayam
Ratiya vippamuttassa, natthi soko kuto bhayam
Dari kemelekatan muncullah kesedihan
Dari kemelekatan muncullah ketakutan
Dia yang sepenuhnya terbebas dari kemelekatan
Tidak akan merasakan kesediha, dan tidak akan merasa begitu ketakutan.
Kamato jayate soko, kamato jayate bhayam
Kamato vippamuttasa, natthi soko kuto bhayam
Dari nafsu muncullah kesedihan
Dari nafsu muncullah ketakutan
Dia yang sepenuhnya terbebas dari nafsu
Tidak akan merasakan kesedihan, dan tidak akan merasa begitu ketakutan.
Tanhaya jayate soko, tanhaya jayate bhayam
Tanhaya vippamuttasa, natthi soko kuto bhayam
Dari keinginan muncullah kesedihan
Dari keinginan muncullah ketakutan
Dia yang telah sepenuhnya terbebas dari segala keinginan
Tidak akan merasakan kesedihan, dan tidak akan merasa begitu ketakutan.
Berikut ini adalah sebuah kisah yang berasal dari Sri Langka yang terjadi sekitar seribu tahun setelah Sang Buddha Mahaparinibbana. Di Sri Langka terdapat sebuah kota bernama Anuradha, dan di sana tinggallah seorang wanita yang sangat setia pada Tri Ratna. Setiap hari dia mendatangi stupa bernama Abhayuttara Ceti untuk mempersembahkan bunga, membersihkan daerah di sekitarnya serta bersujud di hadapannya.
Pada suatu hari dia mengajak serta putrinya untuk mempersembahkan bunga. Mereka membawa banyak bunga untuk dipersembahkan. Tempat di mana mereka akan meletakkan bunga nampak kotor, dan wanita itu ingin membersihkannya sebelum meletakkan bunga. Lalu dia menyerahkan bunga tersebut pada putrinya dan menyuruhnya untuk menunggu di dekat stupa, sementara dia pergi ke sungai terdekat untuk mengambil air agar dapat membersihkan kotoran tersebut. Putrinya menunggu untuk beberapa saat kemudian dia memutuskan untuk tidak menunggu ibunya kembali dan mempersembahkan bunga di tempat kotor itu. Setelah dia mempersembahkan bunga tersebut, dia berdoa dan menyampaikan permohonannya di hadapan stupa, “Melalui persembahan bunga ini, semoga saya menjadi sangat cantik di kehidupan mendatang, sehingga setiap pria yang melihat saya akan jatuh cinta pada saya, dan tubuh saya dapat memancarkan cahaya dan harum.”
Tak lama kemudian, wanita itu kembali dari sungai tetapi putrinya telah mempersembahkan bunga di tempat yang kotor. Wanita itu begitu marah karena putrinya meletakkan bunga di tempat yang kotor tanpa membersihkannya terlebih dahulu. Dia memarahi putriny, “Kamu ini kotor sekali seperi seorang pengemis dari kasta yang paling rendah, mengapa kamu tidak mengerti perintah ibu?” Putrinya menjawab dengan perasaan tidak senang, “Ibu, jika saya seperti seorang pengemis dari kasta yang paling rendah, ibu juga seorang pengemis dari kasta yang paling rendah karena ibu yang melahirkan saya.”
Ketika karma ini berbuah kemudian, si putrid terlahir kembali sebagai seorang penari kampung dari kasta yang rendah. Di Jambudipa, terdapat sebuah kota bernama Uttaramadura yang ditinggali oleh orang-orang dari kasta yang paling rendah, yang bekerja sebagai penyanyi dan penari. Pada saat itu karma yang dia buat pada saat mempersembahkan bunga di stupa juga berbuah, sehingga dia dilahirkan sebagai gadis yang sangat cantikdan tubuhnya mengeluarkan aroma yang harum, dia memiliki sebuah tahi lalat emas di antara payudaranya yang memancarkan cahaya dan membuat setiap pria yang melihatnya tak tahan dan jatuh cinta pada dia.
Suatu hari ketika dia telah beranjak dewasa, putra dari walikota melamar dan ingin menikahinya. Dia menolak lamaran itu karena dia hanya ingin menikah dengna seseorang yang berasal dari kasta yang lebih tinggi bukan dari kasta yang sama. Putra walikota itu merasa sangat sedih dan menulis sebuah lagu untuk mengungkapkan kesedihannya. Pada suatu hari semua penyanyi dan penari di kota itu diundang oleh raja untuk mempertunjukkan kebolehan mereka di istana. Putra walikota menyanyikan lagu sedih yang dia ciptakan dan setelah sang raja mendengar lagu itu, beliau bertanya apakah kisah sedih itu merupakan kisah nyata atau bukan. Putra walikota mengatakan pada sang raja bahwa kisah itu adalah kisah nyata dan berasal dari lubuhk hatinya yang paling dalam. Sang raja kemudian memanggil ayah gadis cantik itu ke istana dan mengatakan, oleh karena putrinya hanya ingin menikah dengan pria yang berasal dari kasta yang lebih tinggi. Sang raja memberitahukan ada seorang pejabat di kota Pancamadura yang sangat membenci wanita. Setiap kali melihat wanita, dia selalu berpikir bahwa mereka akan membawa nasib buruk dan dia harus mencuci wajahnya dengan susu sapi, sehingga dia dikenal karena kebenciannya pada wanita. Selanjutnya sang raja menyarankan pada ayah gadis itu, jika putrinya dapat memikah pejabat itu, maka putrinya dapat menikah dengan pria dari kasta yang paling tinggi.
Wanita dengan tahi lalat emas itu pergi ke istana bersama ayahnya untuk menghibur raja dengan tarian dan nyanyian. Sang raja juga mengundang pejabat pembenci wanita, yang bernama Uddala untuk menonton pertunjukkan. Ketika Uddala menatap wanita itu, sang wanita memperlihatkan tahi lalat emas yang memancarkan cahayanya. Ketika Uddala melihat cahay itu,dia langsung jatuh cinta pada wanita itu. Dalam perjalanan pulang Uddala memberitahukan teman-teman dan pengikutnya bahwa dia ingin menikahinya dan meminta mereka mengatur pernikahannya. Mereka mengingatkan bahwa wanita itu berasal dari kasta yang paling rendah, dan merupakan hal yang tabu bagi Uddala yang berasal dari kasta yang paling tinggi untuk menikahi wanita itu. Tetapi pejabat itu tidak memperdulikan masalah kasta. Dia berkeras menikahi wanita itu karena dia telah jatuh cinta. Dia berkata pada penasehatnya, “Jika sebuah batu ribu terjatuh ke dalam Lumpur, engkau tetap dapat mengeluarkan dan menggunakannya. Walalupun wanita ini berasal dari kasta yang paling rendah, saya tetap ingin menikahinya.” Dia begitu terpesona kepada wanita itu sehingga dia tidak mau mendengarkan nasihat mereka.
Kemudian mereka mengajukan lamaran pada wanita itu, dan mereka pun menikah. Pejabat itu sangat mencintainya karena dia begitu terpesona, bahkan dia mengabaikan tugasnya untuk menangani masalah pekerjaan, untuk menghadiri pertemuan, untuk mengajar bawahannya, dia hanya ingin dekat dengan istrinya. Setelah beberapa waktu, para pengikutnya merasa kecewa dengan kinerjanya dan berpikir untuk menyingkirkan wanita itu. Mereka membicarakan masalah itu dengan sang raja yang setuju untuk membunuh wanita itu. Kemudian wanita itu dibunuh dan Uddala yang patah hati memutuskan untuk bunuh diri.
Karena keterikatannya pada sang istri, dia mengalami penderitaan dan kesedihan. Sang Buddha mengajarkan bahwa dari perasaan sayang, cinta, kemelekatan, nafsu dan keinginan muncullah kesedihan. Dari perasaan sayang, cinta, kemelekatan, nafsu dan keinginan muncullah ketakutan. Jika seseorang telah terbebas dari perasaan sayang, cinta, kemelekatan, nafsu dan keinginan maka tidak akan ada kesedihan dan tidak akan merasa begitu ketakutan. Oleh karena itu, kita harus melatih meditasi vipassana karena hanya dengan latihan meditasi vipassana, kita dapat menyingkirkan perasaan sayang, cinta, kemelekatan, nafsu dan keinginan.
Semoga anda dapat mengatasi perasaan sayang, cinta, kemelekatan, nafsu dan keinginan melalui latihan meditais Vipassana dan terbebas dari penderitaan dan kesedihan. Semoga anda dapat mencapai Nibbana, akhir dari segala penderitaan dengan mudah dan cepat.
Sadhu! Sadhu! Sadhu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar